Kupu-Kupu di Dalam Perutku

Tidak ada yang tahu kapan kupu-kupu akan bertamu di dalam perutmu, begitu juga aku.


"Apa kabar hari ini?" tanya temanku, melihat aku tidak biasanya menyisakan makanan. Aku ingin sekali menjawab sejujurnya namun mati di ujung lidah. Kondisi ini bukan perkara medis, tapi psikologis. Aku malu karena kupikir hal ini hanya terjadi pada anak SMA bau kencur yang baru puber. Aku, orang dewasa yang sudah bekerja, berpengalaman, masa iya seperti mereka? "Masuk angin dan mual" jawabku, sekali lagi kuberikan kesempatan pada harga diriku untuk menang.

Kuakui hal ini mengganggu, dan semakin parah apabila ada pesan darimu masuk menyapaku. Senyum lebar selalu tercipta manakala kulihat namamu dalam layar smartphoneku. "Sudah gila ya?" kata teman kerja yang kerap melihatku senyum-senyum tanpa sebab. Dia tidak mengerti akan kupu-kupu yang sedang menari-nari di dalam diriku.

Satu-satunya yang menurutku adalah obat yaitu bertemu denganmu, kurasakan kupu-kupu itu menjinak seiring telingaku mendengar suaramu, mata kita yang bertemu, dan tawa karena candaan yang hanya punyamu. Tak kuduga hal itu menjadi candu.

Malam itu kau pamit hendak pergi menyusul para pemudik yang rindu kampung halaman. Kupu-kupu itu memberontak, membuat lidahku pahit karena mual. Aku tahu, satu-satunya kesempatanku adalah di sini. Kukatakan kejujuran dan tak memberi tempat pada harga diri. "Boleh saya peluk?" katamu. Pertama kalinya aku tidak berpikir panjang dan meleburkan diri ke dalam tanganmu. Kupu-kupu yang entah kapan kupelihara itu mulai berlarian, perutku seperti hendak meledak. Nafasku memburu menahan mual. "Badan kamu lebih panas dari saya" kudengar suaramu dekat sekali.
 
Malam itu terasa begitu cepat, aku tidak mempersiapkan diri untuk menjadi sedekat itu denganmu. Pelan-pelan kupu-kupu (ah hewan tak tahu diri itu) meninggalkan perutku, barangkali mereka hendak bermigrasi ke perut lain. Kuhembuskan nafas lega sekali.

Kamu memelukku lagi sebelum pergi. Ah, belum pula kamu hilang dari pandanganku aku sudah kangen! Terbuat dari apakah kamu? 

Saat aku menutup pintu, kupu-kupu itu pelan-pelan berdatangan lagi. Sialan! Dan niatnya masih sama, yaitu mengganggu organ pencernaanku.

Belakangan baru kusadari, kupu-kupu itu hanya patuh pada sentuhanmu.

This entry was posted on Tuesday, December 13, 2016 and is filed under ,. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...