Mengenang Ulang Perpisahan

September 20, 2015

Pagi itu adalah pagi biasa di Muntilan, Richo mengamati di depan rumah ramai orang lalu lalang berkegiatan dan berdagang di pasar. Aki-aki toko seberang memakai singlet untuk menangkal hawa panas. Di warung depan terlihat ibu-ibu bergerombol bertukar sayur dengan uang puluh-ribuan. Richo melihat semua kejadian dengan seksama seakan merekam tiap detiknya, pandangannya beralih ke dalam rumah, ibunya sedang berbicara dengan seseorang di telepon, melihat cara ibunya berbicara, Richo membatin: kuwi mesti cah-cah. Dalam diri ia bungah karena teman-temannya masih memperhatikan keadaan dirinya.

“Cho, ini temen-temen kamu pada mau dateng, katanya mau ngerayain ulang tahunmu” kata ibunya meminta persetujuan.

“Aku nggak enak badan mah, besok aja gimana?” kata Richo, memang dia sedang demam dan merasa agak pusing, “Nek hari ini aku belum siap”.

Ibunya menganggukkan kepala dan menyampaikan pesan Richo ke temannya di seberang telepon. Setelah selesai mengatur ulang waktu, ibunya menutup telepon dan menghampiri Richo, memeriksa panas anak laki-lakinya yang paling mbarep. Dalam hati muncul pikiran-pikiran sedih karena Richo harus mengalami perubahan yang sangat drastis setelah operasi untuk menghilangkan tumor otak yang dideritanya setahun lalu.

Richo termenung menatap layar smartphone miliknya, melihat-lihat berita terbaru teman-teman di lini masa, ada yang sudah lulus, menikah, pergi berlibur, memiliki kekasih baru, dan banyak lagi. Melihat raut wajah sedih di anaknya seperti tersayat hati sang ibu, pastilah Richo merasa sangat sedih karena teman-temannya sudah berjalan lebih jauh dari dirinya yang masih pemulihan. Ibunya ingin sekali memberikan apa saja supaya anaknya tidak lagi menderita, namun yang bisa dia lakukan kini hanyalah tetap berada di samping anaknya dan menyemangatinya.

“Mamah siap-siap ya hari Minggu temenku mau datang banyak banget” kata Richo.

Ibunya mengerutkan wajah, “Banyak banget tuh berapa orang memang? Kan mama harus siapkan makan dan segala macem, nek nggak cukup piye” katanya sembari dalam hati menghitung-hitung apa saja yang harus disiapkan.

“Gampang mah, kalau nggak cukup beli aja di toko ada banyak”

Ibunya masih bingung namun mengiyakan. Richo anak yang pandai, pastilah dia sudah mengatur dan memikirkan untuk sampai kepada keputusan bahwa semua akan baik-baik saja. Hari esoknya setelah itu menjadi sangat cepat dan ibunya hanya bisa mengingat sekelibat. Richo menolak makan, dibawa ke rumah sakit, mondok, kebingungan karena badan Richo tidak panas walaupun termometer menunjukkan 40 derajat, pindah ke ruang ICU, kepanikan di wajah suaminya, dokter dan suster yang mondar-mandir, sampai akhirnya dokter menyatakan Richo sudah tiada. Jam 00:00 pergantian hari Sabtu ke Minggu.

Semua masih seperti mimpi.

Kini ibunya berdiri, menyaksikan teman-teman Richo datang ke rumah duka, mulanya hanya setengah ruangan, lalu hingga penuh, sampai ke belakang-belakang, sampai keluar bangunan, sampai di halaman, itu pun masih juga belum cukup. Anak muda berpakaian ada hitam ada putih itu semuanya menangis, semuanya bersedih, semuanya belum rela dan percaya, walau mereka telah melihat Richo di dalam peti. Ibunya lah yang paling tidak rela, bagaimana mungkin anak sebaik Richo pergi sangat cepat? Kesalahan apa yang dilakukan sampai harus dipanggil selang dua hari setelah ia berulang tahun ke-24?

Rumah duka yang penuh tangis ini menjadi khidmat saat misa, tidak lama setelah selesai misa, seorang teman SMA Richo mendatangi sang ibu dan meminta ijin untuk anak-anak menyanyikan Mars De Britto di depan peti anaknya, ibunya mengiyakan. Suara bass dan bariton melingkupi rumah duka itu, membuat suasana magis. Ada yang berkata lilin di depan peti mengarah ke peti dengan tegak, padahal saat itu sungguh tidak ada angin. Kepercayaan orang Tiong Hoa mengatakan bahwa itu pertanda orang yang meninggal roh-nya masih ada di sana.

Pada hari ketiga aku datang dari Jakarta dengan emosi yang masih tumpang tindih. Aku memeluk adiknya dan kami menangis bersama-sama walaupun aku mencoba lebih tegar. Saat aku datang peti telah ditutup, aku tidak bisa melihat wajah Richo secara langsung untuk terakhir kalinya, beruntung aku sempat dikirimi foto dari teman yang datang. Dia tampak nyaman dan seperti sedang tertidur pulas. Tidak lagi merasakan sakit. Tidak lagi merasakan sepi. Tidak lagi memikirkan hal-hal yang membuatnya menderita. Jauh dari semua itu, pergi ke dalam tidurnya yang lelap dan damai. Mendoakannya dari sisi peti, pertahanan diriku runtuh perlahan, aku menangis terbayang saat SMA awal mengenal Richo, ternyata sungguh banyak kisah perjalananku dengannya.

Aku mencari ibunya seusai berdoa, memantabkan diri untuk menerima segala banjir emosi yang akan melanda. Ibunya memelukku dan menangis, aku memeluknya erat mencoba menguatkan, betapa hancur hati ibunya, ibu yang baik hati dan sabar ini.

“Richo kangen sama mbak, pengen ketemu, Richo sedih sekarang jadi jauh karena mbak Ayi di Jakarta” kata ibunya, “Richo banyak cerita tentang keluarga mbak”

Tembok pertahananku akhirnya runtuh sepenuhnya. Kurasakan ada batu besar di dalam hatiku, menarik segala macam syaraf di kerongkongan dan mata, membuatnya tercekat menghasilkan lebih deras air mata. Wajahku sudah tidak lagi terkontrol. Di dalam hati tersimpan penyesalan karena tidak mengunjungi ke Muntilan saat aku sempat. Sepanjang hari itu berjalan, tiap detiknya aku teringat pada Richo. Jujur hatinya, baik budinya, sederhana lakunya, iseng tingkahnya, kepandaiannya bermusik yang menggetarkan hati, kecintaannya terhadap wayang dan budaya. Richo suka sekali ngece, setiap temannya pasti selalu kena tabiatnya yang satu ini. Khas De Britto, suka mem-bully tapi tetap care dengan kawan-kawannya. Unik memang. Barangkali hal ini juga yang menguatkan persahabatan bertahun-tahun di antara Richo dan teman-teman SMA-nya.

Saat Richo disemayamkan, teman-teman SMA-nya menyanyikan Mars De Britto untuk yang terakhir kalinya, “Untuk sedulur kami Richo Yudasmara”

Aku mendengarkan lagu yang nostalgi ini dengan khidmat sambil ikut bersenandung. Entah dari mana aku mendengar suara Richo tertawa, tawa yang tidak akan dilupakan karena sangat khas Richo. Aku mendekap tasku erat sambil memejamkan mata. Membayangkan pun tidak apa, itu tanda memoriku masih mengingat hal tentang dirinya.

Richo, teman-teman kamu datang semua, mereka semua sayang sama kamu seperti mamah kamu juga sayang sama kamu. Kamu pasti senang kan? Sudah nggak sakit lagi kan? Cah bagus...istirahat yang tenang ya...aku sayang sama kamu. Aku akan ikut jaga keluarga kamu, nggak usah khawatir dan nggak usah pekewuh, karena aku juga sayang sama keluarga kamu. Hati-hati di jalan.

Dalam beberapa detik yang khusyuk itu aku berdoa sambil berbicara kepada Richo. Mengungkapkan segala hal yang tidak sempat aku ungkapkan. Berharap dia mendengar, tersenyum, tenang, dan segera diterima di sisi-Nya. Dalam hati aku berjanji untuk menjalani hidup sambil mengenang yang telah tiada, menerima kepergiannya sebagai bagian dari perjalanan hidup, gurasan kuas dalam sebuah kanvas. Seperti yang dikatakan Haruki Murakami dalam Norwegian Wood: Death exists, not as the opposite but as a part of life.

Kusebar bunga di atas peristirahatan terakhir Richo, mencoba menatanya seperti kaum flamboyan yang mencintai keindahan. Sebelum pergi melanjutkan hidup, aku berlutut memegang sisi kubur sembari membisikkan pesan.

Tidurlah dalam damai, kekasih pertamaku.





You Might Also Like

3 comments

  1. Ah kamu marakke...as mbuh...
    rest in peace, le...salam nggo bojoku...

    ReplyDelete
  2. Mbak Ayik, peruk elat! Ak mau nangis di tengah perjalanan lubang buaya - palmerah naik gojek gr2 tulisan ini.

    ReplyDelete
  3. Cerita nya kok sama persis dgn kisahku mbak..hrs. kuat dan tegar yaa mba...

    ReplyDelete