Matanya Seteduh Danau

Satu gelas kopi.

Aku sedang menunggu diriku di persimpangan masa depan. Selembar surat kabar kubaca baris demi baris  untuk mengalihkan rasa dingin, dingin yang tak pernah hilang sejak setahun yang lalu. Kurapatkan jaket sembari mengeluh. Kabut semakin tipis, rel kereta mendapatkan penghuni. Pengeras suara di peron mengumumkan tibanya kereta yang bimbang untuk aku naiki.

Aku hampir saja bangkit dari kursi dan menarik koperku ketika dia datang. Matanya nanar namun kaki melangkah tegap. Dia seperti anjing yang tersesat dan kelaparan. Duduk di meja sebelahku, dia memesan pula segelas kopi. Aku melihat kelelahan ketika dia duduk di kursi kayu dan kelegaan ketika dia menyisip cairan kafein itu. Mendadak muncul rasa sayang keibuan yang membuatku ingin mengelus punggung kurus pria ini. Tanganku meraihnya dan aku terkejut saat dia menyambutku, sekejap saja jari kami bertautan. Baru kusadari, matanya seteduh danau. Dia menatapku seakan melihat sampai kedalaman jiwa.

"I found you" katanya. 

Kisut di wajahnya hilang, senyumnya mengembang, dari jari pria itu mengalir kehangatan. Pipiku kembali mendapatkan ronanya, kurasakan darah mengalir pula di jari kakiku yang sempat mati rasa, pundakku berhenti menggigil dan bibirku memerah. Aku terkesima dengan perubahan tiba-tiba ini, dingin yang menghinggapiku setahun hilang dalam sekejap. Cahaya jatuh di mata seteduh danau itu, dan aku melihat diriku di dalam dirinya.

Oh, apakah musim semi sudah datang?

Kudengar pengeras suara berteriak, suaranya memenuhi peron.

Beberapa detik kemudian aku merasakan rambutku terbang diterpa angin, delapan gerbong baru saja meninggalkan stasiun.


photo by: compulsive photographers - Down in the Underground collection - Francesco Merlini, 2012



This entry was posted on Sunday, September 14, 2014 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...