A Rush Of Blood to the Head

“Kapan ya nduk, papamu ga pernah punya uang”

Kerut di wajah beliau semakin dalam, Indira menyadari bahwa gravitasi bumi beberapa tahun terakhir ini semakin menguasai wajah ibunya.

Wanita itu menghembuskan nafas lagi, “Pergi naik taxi tiap hari, tapi membagi uang ke istrinya dia segan. Sudah lima tahun lebih ya nduk, untung kakakmu sudah bekerja, tapi mama gemas lihat papa yang ga pernah mau bayar uang kuliahmu”

Soto yang dahsyat itu menjadi agak hambar, apa mas penjual lupa menambahkan penyedap? Indira menyendok kuah soto dan mengguyurnya ke nasi di piring ibunya, “Makan ma, nanti mbededeg”

“Ga enak, di lidah mama rasanya ga karuan”

“Ya karena mama sakit, makan yang banyak biar cepat sembuh, biar makan apa saja jadi enak”

Ibunya mulai mengunyah nasi soto di piringnya, terlihat oleh Indira beliau memaksakan diri menelan makanan, pasti di lidahnya rasanya sungguh tidak enak. Indira menatap ibunya sambil terus mengunyah nasi. Ibunya sudah tidak secantik dulu. Kemudaannya diserap oleh liang penderitaan yang membuatnya sulit tidur kala malam dan melamun kala sore.

Makan siang itu berakhir tanpa percakapan apa-apa lagi, mereka berjalan pulang. Jakarta di jam macetnya, beberapa pengendara berlomba mencelakakan diri. Setelah lima belas menit yang bising dan pengap, mereka akhirnya sampai di rumah. Indira membantu ibunya yang kepayahan berusaha naik ke kamar lantai dua, punggungnya masih sakit akibat jatuh di lantai kamar mandi semalam.

Ibunya langsung menjatuhkan diri ke kasur yang empuk, mengelus tulang ekornya yang nyeri. Indira mengambil bantal selimut untuk ibunya dan balsem untuk otot yang linu.

“Coba, mama sakit begini papamu tidak ada kabarnya sama sekali, kayanya ga peduli mama sudah makan atau belum, mungkin mama mati juga dia ga peduli”

Anak gadisnya tidak menyahut, dia menyalakan TV, memindah saluran ke acara favorit ibunya. Perhatian beliau teralih. Indira membuka laptopnya dan mengerjakan tugas yang tertunda. Tidak lama kemudian dia mendengar suara dengkuran halus dari arah kasur.

Tidurlah ma, Indira jaga mama di sini. Jangan kalah dengan rasa letih dan tuntutan hidup.

Sayup-sayup A Rush of Blood to the Head Coldplay terdengar dari laptopnya. Indira terdiam. Perlahan dia turun ke lantai bawah menuju kamar mandi, mengunci pintunya, menceburkan kepalanya ke dalam bak.

Berkali-kali. Berkali-kali.

Berat di kepalanya tidak juga hilang. Dia ulangi lagi sampai seluruh tubuhnya basah.

Berkali-kali. Berkali-kali.

This entry was posted on Tuesday, July 22, 2014 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...