Tiba-Tiba Kesadaran

Kalajengking hidup sendirian, menyengat diam-diam, memuja alam raya dan memilliki mata ketiga terhadap kematian.

Suatu ketika Indira ditegur ibunya karena tidak pernah menangis dalam pemakaman, ibunya menganggap hal itu kurang simpatik. Akan tetapi Indira berpikiran lain, kematian adalah awal kehidupan, seperti halnya ayam yang mati disembelih untuk memberi makan orang yang sedang mengandung. Kematian dan kehidupan itu bergandengan. Dualisme tidak terpisahkan. Manusia yang menangisi kematian sesungguhnya menangisi diri mereka sendiri karena kehilangan satu sosok yang mengerti diri mereka. Ada sebuah kesadaran menyergapi, sasmita alam yang sangat halus memberi tahu bahwa Indira tidak pernah menangis karena tidak pernah sepenuhnya mempercayai orang, dia justru bahagia karena yang meninggal akhirnya memperoleh kedamaian. Ah, betapa indahnya, pergi ke tempat di mana kamu terbebas dari urusan dunia, persoalan tetek-bengek yang dipersulit oleh karakter manusia yang gelap. Indira tidak pernah menceritakan gagasannya ini, dia paham bahwa bukan sifat manusia untuk memahami yang berbeda dengan mereka.

Tidak akan ada yang sungguh paham, tafsir manusia berbeda-beda tergantung referensi, untuk apa mencari yang mengerti. Mencari yang mau mendengar saja lah cukup. Tapi bagaimana ada yang mau mendengar kalau tidak ada yang bercerita? Ah, dasar kalajengking betina, sebenarnya kamu hanya takut menyakiti orang yang akan membuatmu terluka.

Indira mengulum senyum, kesadaran itu membuatnya puas.


This entry was posted on Tuesday, March 11, 2014 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...