First hike: Semeru

September 19, 2013

September, awal mula dari segala hal yang tidak terduga. Mulai dari kegiatan baru sampai destinasi baru. Aku yang belum pernah naik gunung ini diajak hiking pada suatu ketika, ke mana? Semeru, atau ada yang menyebutnya puncak abadi para dewa.

Gimana yik rasanya naik Semeru? Banyak temanku yang antusias bertanya, karena gunung ini ternyata cukup komersil akibat film di layar lebar. Gimana ya?

Hmm oke, mau cerita aja sih...Sebenernya aku sebelum pergi sudah membayangkan betapa pegelnya perjalanan besok. Yah, pada dasarnya aku ga terlalu suka naik gunung. Capek, pegel, serem, banyak binatang dan penghuni lainnya, beresiko tinggi sakit macem-macem kalau badan lagi ga fit, kadang kalau malem dingin sampai minus dan bikin ga bisa tidur sampai pagi. Intinya kalau dibandingin sama liburan lain, bisa tidur di cottage, dapet foto bagus, makan enak, tidur enak, fasilitas apa aja ada, ga capek. Enak kan.

Terus kok mau diajak naik gunung?

Kenapa? Selain karena aku uda penasaran dari dulu, menurutku rugi kalau belum pernah ngerasain naik gunung. Asiknya yang pasti adalah bisa liat pemandangan bagus, dan jelas bakal jadi pengalaman berkesan seumur hidup. Tapi selain itu, banyak pengalaman menyentuh ternyata. Di gunung ga cuma ngetes fisik, tapi juga mental. Hubungannya sama prinsip dan kekuatan keyakinan dalam diri. Di Semeru kemarin aku bener-bener melatih mentalku supaya tekadku tetep kuat. Selalu aku sugesti diri dengan semangat pantang menyerah. Yang aku sesali adalah, aku dari bawah ga mikir untuk sampe ke puncak. Secara ini pendakian pertama, langsung Semeru yang notabene gunung tertinggi di Pulau Jawa. Jiper duluan kan.

Ranu Kumbolo, genangan air sebesar satu RT
pagi mulai hangat, tapi kabut masih menari di atas air
tempat andalan mengambil air bersih. hati-hati jatuh, sampai sekarang ga ada yang tahu berapa kedalaman Ranu Kumbolo yang sebenarnya (sekitar 28-100 meter, ga ada yang bener-bener jelas). maka mandi di sini pun dilarang kecuali nekat

Langit sudah gelap waktu sampai Ranu Kumbolo, lega banget rasanya! Bisa mendirikan tenda dan istirahat sebentar. Dan esoknya setelah bangun tidur badanku pegal keseluruhan. Kaki, paha, dengkul, pundak, leher, lengan...ga ada yang mau nurutin buat membawa tekad pemiliknya untuk sampai puncak. Mungkin ini cuma alasan, bisa aja. Tapi aku tahu pundakku udah ga kuat buat bawa carrier melewati tanjakan cinta yang sangat curam lerengnya. Kalo diliat sih kayanya ga terlalu curam dan jauh ya, coba dijalanin sendiri deh :D

tanjakan cinta. konon kalo bisa sampe atas tanpa berhenti dan nengok bawah bisa ketemu cinta sejatinya

Oro-Oro Ombo. destinasi terjauh. kaki kurus yang payah ini cuma bisa membawa pemiliknya sampai sini. oh iya, katanya kalo pertengahan tahun di sini ada padang bunga ungu lho, nama bunganya Purple Peacock
sisa-sisa Purple Peacock di bulan September. bayangin kalo ada 10 hektar. ah pasti cantik!

Oh iya, perjalanan kemarin memakan biaya kira-kira Rp 450.000,- per orang. Masih ada kembaliannya dikit, lumayan buat makan di emperan. Rinciannya aku agak lupa, yang jelas habis banyak untuk transport dan makan hahaha. Untungnya kemarin dapet tiket kereta promo.

Hmm...Akhir kata, petualangan itu macam-macam, dan tiap jenisnya punya kelebihan serta kekurangannya sendiri-sendiri. Begitu juga naik gunung, banyak pengalaman dan nilai hidup yang bisa didapat, mungkin lebih dari yang kamu bisa bayangkan. Tapi petualangan lain (seperti bakpacking, caving, rafting, camping, dan lain-lain) pun memiliki nilai-nilai yang ga bisa didapat saat kamu naik gunung. Intinya...semua boleh dicoba, dan saya yakin semua punya nilai yang saling melengkapi satu sama lain. Kaya puzzle gitu.

Dan yang jelas, di gunung lah aku menyadari, bahwa hidup manusia pada intinya ga lepas dari air, api, udara, dan tanah. Empat unsur alam ini menghidupi dan mengajarkan segala kearifan pada makhluknya. Alam raya ini besar ternyata, dan aku merasa sangat kecil. Aku malu pernah sombong atas segala hal yang sebenernya sepele. Gunung ternyata layaknya seorang bapak yang mengajari dengan keras, tegas, dan membiarkan anaknya mengetahui makna perjalanan dengan sendirinya.

Jadi, buat yang mau naik gunung tapi was-was karena belum pernah, aku saranin...Ini bukan main-main, persiapan harus matang dan mental harus kuat. Dan hati-hati sama gunung, karena mereka jauh lebih tua dari kita, mereka saksi sejarah dan pusat segala mitos. Aku ga mau kualat aja sih. Percaya ga percaya local science itu ada dan eksis dari tahun Sebelum Masehi sampai sekarang. Ribuan tahun bro, dan rata-rata kita manusia hidup ga sampe 100 tahun, so ga ada 1/10-nya gitu. Hayoloh masih mau ngeyel?

Anyway, Semeru adalah gunung yang punya banyak kisah, baik dari sejarah maupun dari pengalaman para pendaki. Pemandangannya? Jangan tanya, priceless, ga akan nyesel, many people will do anything to get that view. Selamat mencoba, dan selamat mengenali diri sendiri sampai pusat raga dan rasa. Dan pastinya jangan lupa bawa pulang sampahnya ya, menurut info terbaru sekarang Semeru udah mulai kotor dan banyak sampah :( alam yang indah harus dijaga bersama-sama supaya tidak rusak :D


P.S: Mahameru, aku akan jumpa kamu di lain waktu!

You Might Also Like

1 comments