Catatan Hari ke-731

June 10, 2013

Jakarta tak pernah menjadi rumah baginya. Aku menyadari itu semenjak kami bertemu mata dua hari ini. Ada yang mencegah dia untuk berbahagia, ada sesuatu yang menghantam dan merontokkannya, membuatnya berserakan sehingga harus memungut serpihan dirinya dan membangunnya kembali supaya menjadi satu manusia yang utuh.

Aku selalu menganggap dia sebagai musafir, pengelana yang selalu bergerak dan tidak pernah menetap. Barangkali akan membentuk kelompok, berkumpul, berproses, kemudian melanjutkan perjalanan sendiri ke arah yang hanya dia dan semesta yang tahu. Maka dalam hati aku diam-diam menyiapkan diri apabila saat itu datang.

Ketika dia tertidur di sebelahku, aku mendengar mimpinya. Dia menangis, tubuhnya bergetar dan mendadak sesenggukan. Pemandangan pertama kali ini membuatku terkejut. Kemudian aku seakan terlempar ke dua tahun silam dan mengingat kembali.

Ada rasa kehilangan dalam dirinya yang ingin kuraba dan kugenggam.

Ada daya tahan luar biasa dalam dirinya untuk terus hidup yang berasal dari obsesi dan dendam.

Ada kesedihan di matanya yang ingin aku sembuhkan.

Aku mendekatinya dan memeluk punggungnya, seperti menguatkan pelayat dalam sebuah pemakaman. Malam itu, aku juga menangis dalam mimpi.

You Might Also Like

0 comments