Purnama

(source pic: pinterest.com)  
Terpahat jelas di langit yang kau puja, langit yang tak tersentuh, langit yang menjadi sekat antara kau dan mimpimu, langit yang dapat menggugah imajimu dan meluapkan emosimu. Tak jelas apakah langit yang kulihat sekarang sama dengan langit pada waktu pertama bumi diciptakan, apakah bau udara yang kuhirup sama seperti bau udara yang dihirup adam dan hawa saat mereka terjebak dosa. Entah berapa kisah sudah terekam oleh langit tentang hidup manusia. Entah sudah berapa kali ia menangis meneteskan hujan. Aku tahu tanah ingin sekali mencumbu kebesaran langit, tapi ia tak pernah tahu bahwa langit tak berujung, pernah Himalaya mengangkat tubuhnya demi langit, ia menyentuhnya tapi semakin tinggi ia menjulang, semakin tinggi langit berada.

Suatu hari saat aku duduk menatap langit, ia tersenyum dan berbisik…
 

“Aku punya suatu kisah untukmu”

Aku tersentak kaget, belum sempat aku membalas sapaan langit. Tapi ia sudah mulai bercerita.
 

“Dahulu kala aku memliki teman bernama bulan, ia sangat anggun,dan penuh pesona, banyak laki – laki jatuh hati kepadanya, termasuk Matahari. Ia masih belia dan sangat enerjik, pancarannya selalu dinantikan, tidak hanya oleh penghuni langit, tetapi oleh para manusia, bahkan banyak yang memujanya dan menjadikannya dewi. Kedatangannya sangat indah di malam hari, ditemani balutan malam, bulan laksana putri di tengah pesta. Memang malam menyimpan kesunyian, tapi bulan selalu saja membuatnya menjadi hangat. Pernah suatu saat bulan tidak Nampak, ia tertutup bayang – bayang bumi saat berpesta bersama kami penduduk langit, manusia – manusia panik, mengira bulan telah pergi meninggalkan mereka, mereka terus berteriak memanggil bulan, andai saja manusia – manusia itu tahu bahwa bulan tak mungkin meninggalkannya. Tapi itulah bentuk rasa cinta para manusia akan bulan. Mereka menyebut saat – saat bulan tak tampak dengan kata Gerhana, sebutan yang sangat indah untuk wanita secantik bulan.
 

Aku tak tahu bagaimana bulan bisa begitu indah. Terbentuk dari kikisan waktu dan manisnya mimpi semu. Pernah suatu saat manusia menggapai bulan, tapi apa daya ia tak dapat tinggal di dalamnya, karena bulan terlalu agung bagi manusia, bahkan bagi dewa sekalipun. Ia melenggang begitu saja saat para pria menggodanya, terus berjalan lurus tanpa menghiraukan apa yang terjadi di kanan – kirinya. Dengan kostum yang berkilau butakan sukma, bulan tersenyum menatap mataku, langit runtuh.

Kehadiran bulan sungguh semarakan kehidupan langit, semula venus mampu menarik perhatianku, tapi semenjak bulan datang, segalanya berubah. Kini matahari semakin membara, dan sabuk Jupiter semakin membeku, tak ada satupun yang mengetahui mengapa semua itu terjadi. Langit tak mampu memberikan apa
apa, kecuali kebesaran jiwa. Samudra terkadang menjadi sahabat yang baik bagiku, tetapi tak ada pemenang yang berdiri bersama pecundang, menang kau sendiri, kalah kau sendiri. Memang terasa kejam, tapi itulah kehidupan.
 

Kadang aku merasa jemu dengan siang, dan lelah dengan malam, kuhembuskan angin agar bunga bermekaran, entah mengapa aku yakin suatu saat bumi berhenti berputar, sama seperti kau lepas dari hidup. Mungkin sekarang kau merasa ada tempat setelah kehidupan, kau percaya, tapi bukanlah itu bukti ketiadaan? Bukti bahwa kau terlalu takut untuk mati.
 

Kini semua berlalu dan entah mengapa
 

Tak ada lagi bulan
 

Tak ada yang tahu kemana ia pergi, terakhir uranus melihatnya ia menangis dan berlari keluar galaksi. Aku terkejut, tak pernah sekalipun aku melihat bulan bersedih, ia selalu tampak ceria dan keceriaannya itulah yang membuat bumi semangat untuk terus berlari mengejar waktu yang telah mencuri detik dari dompet bumi.
 

Kini bulan telah hilang
 

Tak akan kaulihat lagi ia dilangit, kalau kau masih belum percaya tengoklah ke angkasa, kau tak akan menemukan bulan, ia hanya meninggalkan bayang – bayangnya saja, jadi yang kau kira bulan selama ini adalah salah, ia bukanlah bulan, ia hanya bayang – bayangnya saja. Bulan sengaja memperdayamu dengan muslihat bayang – bayangnya agar kau tak bersedih dan merasa kehilangan. Tapi akulah langit, akulah saksi apa yang telah terjadi dari awal semua ini terjadi.
 

Bulan benar – benar telah pergi
 

Satu hal yang paling membekas di benaku, saat bulan mengenakan gaun putihnya.
 

Itulah yang kau sebut Purnama.


Yogyakarta, di jembatan empat belas lima belas


-----------------------------------------------


Melihat purnama di hari raya Galungan, mendadak aku ingat surat ini, diketik dan dikirimkan secara digital. Dari seorang teman untukku pada bulan Oktober di tahun tergelapku.

Dia mengajarkan arti ketangguhan dan lebih menikmati hidup. Terlebih lagi, dia memberikan makna, untuk membuatku memahami bahwa hidup tidak untuk dipinjamkan kepada orang maupun kepada saat tertentu, karena kitalah tuan dari hidup kita sendiri. Hidup dengan apa yang kamu cintai, hidup sebagai manusia bebas (Apakah kebebasan itu ada? Mungkin itu akan jadi topik diskusi yang lain).

Kini semuanya bergulir, tidak hanya angka dari umur-umur, tapi juga nasib dan takdir yang mempertemukan dengan orang-orang baru. Si gadis telah menjajaki dirinya sendiri untuk menjadi perempuan dewasa, siap berubah dari bermain-main menjadi pemain. Begitu juga dia, yang terlebih dahulu menyadari hal ini dan berbaik hati untuk membagikannya denganku.

Aku masih bertanya-tanya akan kepergian Bulan, tapi semuanya memiliki asumsi sendiri, yang pada akhirnya entah menyiksa atau justru menentramkan diri. Kisah ini hanya dia dan Langit yang tahu maknanya secara persis, sedangkan bagiku, surat ini berarti sebagai pemenuhan dan penghargaan atas sebuah mimpi kecil yang sederhana.

Barangkali aku tidak sempat mengucapkan terima kasih yang layak, namun ini akan selalu berada mengisi jiwa. Aku berharap si penulis surat ini selalu diberkati, karena dia orang baik :)




Regards, 
Betari Kiranasari

This entry was posted on Wednesday, March 27, 2013 and is filed under ,. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...