Hirudinea

December 09, 2012

Bertubuh pipih. Makhluk itu mengamatiku dari sudut kamar mandi. Memperhatikanku tanpa bergerak, pertama aku pikir dia sudah mati, kuguyur pula menuju lubang buangan.

Matanya kecil. Melihat aku yang sedang kikuk, sesekali menarik nafas, lalu menggaruk kepala. Aku pikir hanya kehadirannya yang semakin besar di sudut pikirku, nyatanya tubuhnya pun juga membesar.

Berdenyut-denyut. Mahluk itu mendekati lantai yang basah di bawah kakiku. Menghisap airnya sampai kering, dia semakin gemuk. Sementara aku menjelajah dataran asing di dalam pikiranku.

Berbungkus lendir. Masih mengawasiku dengan sudut matanya, masih terus membesar hingga sulit berjalan. Dalam setengah sadar aku mendekatinya, mengambil ekornya sebelum dia bisa kabur dan memasukannya ke dalam mulutku. Kutelan cepat-cepat, rasanya sangat ganjil. Lendirnya masih tertinggal di dalam mulut dan aku merasa jijik. Kutahan kemauan untuk muntah.

Menghisap. Makhluk gemuk itu sampai ke dalam tubuhku, dengan mudah dia menemukan posisinya dan bergerak mencari aliran darahku. Begitu sampai di jantung, dia membuka mulutnya dan menghisap isinya. Aku meronta, melotot dan berkeringat, air asin membasahi mulutku. Kulihat jariku berkerut, nadiku berwarna gelap, kulitku pasi, dan tubuhku terbakar. Aku menjerit sejadi-jadinya.

Di hamparan cahaya remang, aku mendengar bunyi kepakan sayap. Dan Maut pun tersenyum.

Hitam.

You Might Also Like

0 comments