Joko Sulennon

Alkisah ada seorang Putri di negeri Avatar yang senang berpetualang dan merasa lebih nyaman saat jauh dari rumah. Ratu bingung bagaimana lagi cara membujuk anak perempuannya itu supaya betah di rumah, segala macam cara, upaya, dan ancaman telah dilakukan namun tiada membuahkan hasil. Maka Ratu cantik yang mulai banyak keriput karena stres memikirkan anaknya itu memanggil si anak dan bertanya apa gerangan kiranya yang akan membuat si Putri lebih sering di rumah.

Putri cantik yang mulai beranjak dewasa itu tersenyum saja, tahu benar cara menghadapkan ibunya kepada keputusan yang sulit, "Aku ingin supaya aku diperbolehkan adopsi anak"

Ratu tidak menjawab dan pusing tujuh keliling dalam waktu tujuh detik, apa pula ini setan yang menghasut putrinya. Tidak, ini tidak benar! Putri masih dalam waktunya untuk berkembang, explore sana-sini seperti Dora, belum masanya momong anak, dan Ratu belum pula menginginkan cucu. Dilematis!

"Bukan, jangan bayangkan bayi kecil yang imut lucu seperti di iklan shampoo bayi, jangan! maksudku adalah seekor anjing"

Ah. Baiklah. Ratu mulai paham dan mengerti, dikantonginya lagi obat anemia yang hendak ditelannya karena Ratu merasa sesaat kehilangan darah, padahal dia sudah menopause. Abaikan. Seekor anjing, kenapa Ratu tidak terpikir sejak dulu. Dambaan si Putri sejak dia masih duduk di bangku sekolah. Ratu tidak pernah mengijinkan Putri memelihara apa-apa lagi semenjak peliharannya mati karena kurang kasih sayang dan perhatian. Ya, mungkin ini adalah keputusan yang baik dan bijak, karena membuat Putri juga belajar tanggung jawab, apalagi si Putri akan segera melanjutkan tahta kerajaan negeri Avatar.

JENG...JENG...JENG...that's riight! the princess is meeeeeeeh~ yeyeyeye :))))

Maka dipilihlah seekor anjing kecil, yang milih aku sendiri *ditemani pacar. Ga perlu mahal yang penting setia, karena dari kocek sendiri, hasil darah dan keringat yang emang jumlahnya ga banyak-banyak amat (dalam hati berkata cih mama pelit). Singkat kata dibelilah seekor anjing kecil lucu *anjing sewaktu kecil emang semua lucu


Terus yang sulit selanjutnya adalah mikirin nama. Mikir mikir dan mikir lalu terbitlah nama yang menakjubkan di ufuk timur, warnanya keemasan: Lennon!! Mudah saja, karena aku sama pacarku sama-sama suka The Beatles. Si pacar suka John Lennon dan aku mengagumi Yoko Ono. Supaya lebih njawani, maka kunamailah anjing itu Joko Sulennon. Sangat adaptif karena menggunakan kata serapan. Sungguh brilian.

Ini adalah penampakannya, the Little Gandalf. Si kecil-kecil berjenggot. Hitam alami tanpa pewarna buatan.
 

Dan so far aku sudah mendapat efek positif:
1. Motivasi untuk bangun pagi. Karena Lennon kalo pagi njegog minta dikeluarin dari kandang, mau pipis dan e'ek, ga lepel buat dia buang air di kandang, saatnya back to nature, buang air di kebun. Cadas!
2. Menarik aura keibuan. Punya anjing sendiri itu bagaikan punya anak, karena mulai dari perlengkapan, makanan, scheduling, vaksin, mandi, dsb semua aku yang ngurusin.
3. Belajar bertanggung jawab. Cukup jelas ya, ini piaraan, bukan pohon cabe yang bisa cari makan dan tumbuh sendiri. Harus dirawat lah. Hehehehe.
4. dsb

Semoga Joko Sulennon sehat dan bahagia selalu! *kiss my little Lennon

This entry was posted on Sunday, July 15, 2012 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

2 Responses to “Joko Sulennon”

  1. Kemudian, yang perlu digaris-bawahi dan dicetak tebal, adalah: "ADOPSI tidak sama dengan MEMBELI". Sungguh, banyak terminologi yang diterapkan begitu salah kaprah. Semoga bisa jadi ibu yang baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sesungguhnya cerita pertama dengan kedua tidak berhubungan langsung, hanya jembatan untuk memahami dan lebih entertaining saja. tapi terima kasih masukannya mas :D amiinn ibu yang baik... :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...