hatred, ghost in yourself


Kebencian pada umumnya diartikan sebagai dorongan emosi yang sangat kuat. Perlambang dari ketidaksukaan, permusuhan, antipati, dan sering disebut sebagai penyebab utama peperangan, karena membenci berarti memiliki hasrat untuk menghancurkan, ataupun justru malah menghilangkan. Namun kebencian itu sendiri menurut saya lebih dari sekedar emosi, kebencian harus dipandang sebagai dirinya sendiri, sebagai sesuatu yang menggerakkan roda kehidupan manusia, tidak sekedar memakunya pada tataran emosional saja.

Mula-mula, bayangkan kamu sedang berada di suatu tempat, dan merasa orang menatap kamu. Maka kamu akan merasa malu, karena kamu sedang merasa dinilai oleh orang lain. Dengan menyadari kamu ditatap oleh orang lain, maka sadar tidak sadar kamu menjadi objek, bukan lagi subjek, dari duniamu sendiri. Kamu bukan lagi orang yang menguasai duniamu sendiri, di bawah tatapan lain kamu menjadi benda baginya, seperti benda-benda lain yang ada di sekitarmu. Dan kamu pun kehilangan subjektifitasmu. Dengan demikian kamu akan merasa terancam, bukan dalam situasi yang mencekam, namun kamu merasa struktur hakikimu sebagai manusia menurun sampai ke level benda-benda. Kamu tidak memiliki kendali atas apa yang orang lain pikirkan tentangmu, saat seseorang menatapmu, kebebasanmu pun tidak lagi kamu miliki semuanya. Maka untuk merebutnya kembali, kamu akan mereduksi ke-subjektifitasan si penatap dengan men-objekkan si penatap. Lalu, ternyata kamu juga mereduksi nilai si penatap sampai ke level benda. Dengan demikian, relasi di antara manusia sesungguhnya penuh dengan konflik. Yang mana konflik berujung pada kebencian.

Maka sesungguhnya di dalam kehidupan, manusia tidak lepas dari kebencian yang dimengerti sebagai dirinya sendiri, maupun kebencian emosional. Namun kebencian tidak selamanya buruk, bahkan merupakan berkat dari amarah, karena saat kamu membenci, kamu memiliki keberanian untuk berubah, dan melakukan sesuatu. Kamu terlahir baru, dan kamu yang lama telah mati. Kalau kamu cermati lagi, kebencian berperan penting dalam kelahiran dan kematian dari diri manusia. Selain sebagai emosi tentunya.

Menurutku, kebencian lahir dari cinta yang gagal, sesuatu yang ekstrim juga bisa berujung pada kebencian. Namun kebencian ini sendiri sungguh abstrak, tidak ada wujud nyatanya. Kamu hanya mengenalnya dari pengalaman. Dan muncul saat kamu memikirkannya. Muncul saat kamu beraksi dari reaksi yang ditimbulkan orang lain. Maka kebencian hanya ada di dalam pikiranmu sendiri. Seperti hantu, terasa tapi tidak nyata wujudnya. ceileee horoorr!

So be positive and be happy ^^ walaupun kebencian (yang hakiki) ga bisa lepas dari kehidupan kita, paling tidak kita bisa mengurangi kebencian emosional, menghindarinya bahkan, dengan mengelola emosi di dalam pikiran kita sendiri. Ingatlah:

"APA YANG TERJADI SAMA KAMU SEKARANG ADALAH BUAH DARI PIKIRANMU SENDIRI"
-betarikiranasari

Ah ngemeng apa sih aku...cuma bocah yang sok tahu. hihihi.

See you at the next post :)


This entry was posted on Tuesday, February 15, 2011 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

5 Responses to “hatred, ghost in yourself”

  1. bener2 idealis ya, ayi ini... :D

    Aku pernah baca buku Erich Fromm, Escape From Freedom. Di situ setidaknya ada poin yg bisa kutangkap tentang kebebasan. Yaitu kebebasan dari (freedom from) dan kebebasan untuk (freedom for).

    Kebebasan untuk (freedom for) terletak kpd subjek orang tsb yg aktif mencari kebebasan. Misalnya, kebebasan beragama dan tidak hehe...

    Sedangkan kebebasan dari (freedom from) adl keinginan kuat lepas dari belenggu. Spt, kebebasan dari pemerintah Hosni Mubarak, kebebasan dari kekerasan thd kaum Ahmadiyah, dll.

    Nah, kalau melihat kecondongan topik tulisanmu, mungkin lebih ke arah freedom from. Artinya? Itu bukan keburukan, krn arti sebenarnya adalah ya, menuju ke kebebasan hakiki manusia itu sendiri.

    Jika kebencian berarti spt itu, maka harus dimaknai teks, konteks dan hiperteksnya. Kebencian menurut teks memang saklek (manut pakem), tapi belum tentu makna (konteks) dan hiperteks (sosio kultur) jg memiliki kesaklekan yg serupa. Misalkan kebencian thd Presiden Mubarak oleh rakyat Mesir yg kontra, mungkin bisa dimaknai berbeda oleh pendukung Mubarak.

    "Kebencian lahir dari cinta yg gagal"? Hmm, mungkin kalo orang2 konstruktivis yg desperate akan bilang begitu heheh...kalo aku cuma menjawabnya dg perumpamaan yg diberikan Don Corleone dalam film Godfather, "Jangan benci musuhmu tapi Cintailah musuhmu," (Konon orang Sisilia menerapkan prinsip ini).


    Mengutip kuotasimu yang dicetak miring-tebal, kamu memang idealis, konseptor. Biasanya org idealis dan konseptor punya kecemasan, ketakutan krn mrk berbeda, dan (kadang atau selalu?) merasa sendirian. Dan menulis di blogs adalah bentuk pelepasan kecemasan itu. Hehehe. Hanya menebak...

    btw nice post

    ReplyDelete
  2. idealis? haha, bukan mas, aku cuma sarkastis, dan cenderung apatis... :p

    tentu saja, kalau suatu makna di-harga matikan, maka bakalan parah jadinya, jadi kebencian di sini juga dimaksudkan secara kontekstual. tur sumpah mas bosomu kok abot tenan -_____-" aku lagi kuliah tekan semester 4 lo ini...

    menurutku, kebencian dari "cinta yang gagal" adalah buah dari sesuatu yang ekstrim juga. misalnya kaya di buku "17 keperibadian Karen", yang pas kecilnya disiksa sama bapak dan kakeknya (yang harusnya menyayanginya, di situ terjadi kegagalan dalam proses pemberian cinta dari keluarga terhadap seorang anak), makanya jiwanya terbelah jadi banyak banget. dan tiap kepribadian itu semua saling membenci satu sama lain. yaah, terlalu harafiah mungkin, semacam interpretasi bebas yang praktis dan instan, habisnya mikir susah2 bikin pusiingg hahaaha ^^

    iya juga, ternyata tak baca lagi emang terkesan depresif, karena ini ditulis pas aku lagi sendu kali ya

    dan untuk tebakan terakhir mas hendy, benar atau enggak nya ya rahasia! hihihi

    ReplyDelete
  3. Woops sori kalo terlalu berat bahasanya...hehehe, lama udah ga nulis jg soalnya.

    Sarkastik dan apatis? Krn sarkas kemudian jadi apatis? hehe...(tp ini bukti bhw kamu idealis, apatis cuma dampak)

    Yoi, spt kata Sigmund Freud, "pengalaman masa kecil, menentukan perilaku di masa depan orang itu."

    Bukankah kita sendiri kadang membenci diri kita? Mungkin, tak se-ekstrim Karen, tapi kita kadang menyesal thd apa yg telah dilakukan atau tak jadi dilakukan.

    Wih, ngaku lagi sendu ni? Abis kenapa hayo... Ada yg membuatmu kecewa ya???? hihihi


    Wah rahasia? Yah ga asik niiii

    ReplyDelete
  4. nulis lagi dong mas, punya blog ga? kalo ada aku follow sini. hehehe to be truth, I don't know myself :p wah wah wah kecewa itu biasa, mencoba bangkitnya itu yang butuh usaha. tetaaapp rahasia! hahahaha

    ReplyDelete
  5. Ada blogs, tp lama udah gak di-posting yg baru.

    hendy.co.nr

    sama satu lg yg udah "dibredel" kampus FISIP:

    suaraanjing.blogspot.com

    "mencoba bangkit" ? Hmm sptnya "terjatuh" dalam ya? Udah kayak lagu ST12 aja jiahaha...

    Wuisss "gadis dg rahasianya", ntar jd Femme Fatale lho...hehe

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...