A note from friend

April 12, 2010

Alkisah ada seorang kakek-kakek yang sudah hidup selama 70 tahun. Suatu hari dia melakukan rutinitasnya, berjalan-jalan di sekitar komplek perumahannya. Sampai berjalan sampai agak jauh, dia mulai ngos-ngosan dan batuk-batuk, namun dia terus berjalan tanpa memperdulikan keadaan tubuhnya yang mulai menunjukkan tanda-tanda sakit. Sampai akhirnya dia tidak mampu lagi berjalan dan hanya terduduk lama, memegangi dadanya yang naik turun karena batuk yang sangat menyiksanya. Akhirnya dengan susah payah dia kembali ke rumah dan berkaca.


Betapa kagetnya dia menemui sosok dirinya yang sangat tua dan kulitnya terlihat amat rentan, keriput di wajahnya semkain bertambah dan saat batuk-batuk mukanya memerah dan raut wajahnya terlihat amat kesakitan. Dia kaget. Sudah setua ini rupanya dia.

Malamnya kakek itu terkena serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit.

Kakek itu lalu sadar, dia sudah sangat tua, rentan, dan akan mati sebentar lagi. Maka dia mengambil bolpen dan kertas, lalu mulai menulis...

"Cucuku

Kakek dulu adalah pendaki gunung, bukan yang biasa saja, justru yang terhebat pada masa kakek dulu. Kakek sudah pernah menaklukkan gunung-gunung tertinggi dan tercuram di Eropa. Kamu tentunya masih ingat bukan? Kakek selalu menceritakan cerita ini padamu, kakek sangat bangga dengan itu.

Namun kini kakek melihat diri kakek, kemampuan yang dulu kakek bangga-banggakan sudah menurun, kemampuan navigasi kakek, penglihatan jarak jauh kakek, tangan kakek yang berkali-kali menyelamatkan kakek dari bahaya, kini gemetar dan bahkan kakek kesulitan untuk menulis surat ini padamu.

Kakek sadar, bahwa kakek dulu hidup hanya untuk memuaskan telinga kakek, kakek senang dengan lontaran pujian dan suara kekaguman yang ditunjukkan untuk kakek. Kakek sadar bahwa kakek salah, dan kakek menyesal.

Kakek mau kamu membuka alkitab, dan melihat pasal sekian ayat sekian. Kakek harap kamu mengerti isi pesan kakek, mungkin bukan sekarang, tapi suatu saat kakek ingin kamu mengerti"

Keesokannya kakek itu meninggal.

Perawat menemukan surat itu dan memberikannya kepada cucunya, "saya menemukan kakekmu meninggal dengan memegang bolpen dan tangan satunya menggenggam kertas. saya rasa kakekmu meninggalkan ini untukmu"

Maka cucunya yang masih kecil itu pun menerima surat itu sambil menangis. Ternyata memang surat itu untuk dia, dan dialah cucu yang dimaksud. Maka dia membacanya dengan seksama, dan tidak mengerti akan apa yang dimaksudkan si kakek. Lalu dia membuka alkitab pasal sekian ayat sekian sesuai dengan surat kakeknya. Bunyinya:

"Arahkanlah hatimu pada Tuhan"

Namun cucu yang masih kecil tidak mengerti.

Waktu berlalu, dan cucu itu pun beranjak dewasa, dia banyak bekerja di kantor dan sangat jarang menghabiskan waktu bersama keluarganya, lalu akhirnya dia pun bercerai dengan istrinya, betapa sedih hatinya saat itu.

Maka cucu itu pun teringat akan surat dari kakeknya pada masa dulu. Dia ingat bagaimana kakeknya jarang berada di rumah, hubungan dengan neneknya pun biasa saja, memang si cucu sering diajak ke banyak tempat, namun tidak pernah sekalipun diajak ke gereja dan berinteraksi dengan Tuhan. Merenungkan hal itu, si cucu pun mengerti apa maksud surat kakeknya.

Dia tidak ingin cucunya jatuh ke jalan yang sama dengannya. Dia ingin cucunya memperbaiki kesalahan ini, kakek itu ingin cucunya bahagia, namun ternyata cucunya pun jatuh ke jalan yang sama, cucunya menjadi workaholic dan menutup mata dari hal-hal yang lain.

Gampang saja yang diinginkan kakek itu, dia ingin cucunya mengerti, bahwa tidak bisa manusia hanya hidup dari dirinya sendiri, sesombong dan setangguh apapun manusia itu, dia harus sadar bahwa dalam satu titik di hidupnya, dia butuh Tuhan. Mungkin memang banyak hal yang dirasa mustahil bagi manusia, tapi tidak pada Tuhan. Mintalah, maka Tuhan akan memberi, Tuhan penuh kasih dan sangat menyayangi umat-Nya.

---------------------------------------

Temanku menceritakan hal ini padaku, karena dia melihatku hanya berputar-putar di satu tempat, tanpa arah, mencari kupu-kupu yang aku lihat terbang masuk ke kebun dan hanya terus mencarinya di sana, tanpa tahu sebenarnya ada cahaya di depanku, yang tidak aku pedulikan, yang merupakan jalanku.

"Kamu itu cuma berputar-putar di sini, mencari mana kupu-kupuku, dan kamu akan 'ditampar' oleh Tuhan suatu saat dan Dia akan berkata 'Itu jalanmu, ada di sana, walau redup tapi cahayanya tidak mati, kamu ga liat?' kamu harus ada niat dulu untuk melakukan langkah pertama"

Kini aku tertinggal dalam dilema...

Menunggu ditampar atau berubah?

Aku tidak tahu.

You Might Also Like

0 comments