Dream about lost girl

Aku kenal anak itu.

Dari dalam hutan lebat berpohon pinus tinggi, dia menangkap sosokku. Terduduk diam, bibir terkatup enggan bersuara, seolah bermusuhan dengan dunia luar. Kotor dan terluka, darah kering di bibirnya dan sebagian wajahnya, aku membayangkan tangan kurus kering penyihir meraupkan cairan kental merah itu ke kulitnya yang lembut seperti bayi. Sorot matanya adalah sihir, bundar dan hitam menatap jauh ke dalam lensa ku dari balik rambut hitamnya yang berantakan dan lengket. Daun-daun kering berguguran di sekelilingnya, aku seperti melihat film hitam putih dan tiba-tiba udara terasa pengap.

Bibir mungil itu membuka pelan, kulit kering mengelupas di bagian bibir bawahnya, dia membutuhkan air, pikirku. Anak itu berucap pelan tanpa suara, matanya tetap kosong, pesan tersirat itu tidak bisa kutangkap maksudnya.

Aku merasakan dorongan untuk pergi dari sana, berlari ke mana pun kakiku membimbingku.

Aku berjalan menuju tanjung itu.

Kayunya berderik berisik saat aku menginjakkan langkah satu per satu, kucermati lumut hijau di bagian pinggir yang sering terhempas ombak. Angin kencang saat itu, aku merasa kedinginan, kurapatkan jaketku, tapi lenganku telanjang.

Dari jauh kulihat wanita pohon cemara, berdiri dengan memiringkan kepala, kulitnya putih dan sangat pucat ibarat hantu, aku yakin aku bisa melihat nadinya berwarna hijau kebiruan, berdenyut atau tidak, aku tidak ingin memikirkannya. Rambutnya hitam kelam dan kasar, tertiup angin dan berkibar liar. Laut setelah hujan, udara keruh tidak mendukung. Gaunnya putih kotor dengan tali tipis serupa camisole. Membuka lebar kelopak matanya yang lebam, menyeringai bagai srigala kelaparan, taring pendek menampakkan diri. Matanya yang berbingkai hitam mengancam, tangan kurus yang tadinya terkulai mulai mengembang pelan bagai kelopak bunga yang baru mekar, bedanya, sama sekali tidak ada keindahan yang menakjubkan dalam prosesnya.

Aku merasakan sosok itu akan mendekat, rasa dingin menyergap dari ujung jari sampai ujung kaki, keputusan bijak adalah mundur dengan sangat perlahan, namun telapak kakiku yang telanjang telah lengket di kayu busuk itu.

Aku sendiri di tempat itu.



awake at 18 March, 02:12 am

This entry was posted on Thursday, March 18, 2010 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...